Pages

Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Ini 5 Kandungan Berbahaya Dalam Jajanan Kesukaan Kita



Ladies, kalau ngomong soal jajanan, tak peduli masih sekolah atau sudah bekerja, kita semua pasti bisa 'ngiler' saat membayangkannya. Mulai dari jajan pasar seperti aneka jenis gorengan dan kue basah, hingga jajanan sekolah seperti snack lidi, chiki hingga pentol cilok, pasti masih ingat enaknya.
Namun, memang tak bisa dipungkiri kalau di pasaran banyak sekali 'penjual nakal' yang melakukan trik khusus dengan menggunakan bahan tambahan yang berbahaya. Alasannya adalah untuk membuat jajanan nampak lebih menggugah selera sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang besar.
Memang sih jajanan ini enak sekali rasanya. Tapi, bagi Anda yang suka makan jenis jajanan seperti ini, coba perhatikan. Ada 5 kandungan berbahaya ini yang membuat Anda perlu membatasi konsumsinya.

1. Boraks
Bakso Anda bersih, putih dan kenyal? Wah, pasti sensasi ngunyahnya enak banget ya. Tapi, tak sedikit bakso jenis ini yang ternyata menggunakan boraks. Mungkin Anda sudah sering mendengarnya. Boraks adalah bahan yang biasanya digunakan untuk mengawetkan kayu.
Bila digunakan pada makanan sejenis bakso, maka bakso yang Anda nikmati akan terasa kenyal dan awet selama berhari-hari. Aduuuh, serem kan kalau sampai pengawet kayu ada di dalam tubuh kita. Selain bakso, bahan makanan yang sering menggunakan boraks adalah tahu, kerupuk atau mie, termasuk pentol kecil-kecil yang sering Anda temui dijual di sekolah.

2. Formalin
Selain boraks, bahan yang populer digunakan sebagai pengawet adalah formalin. Bagi Anda yang sering mengonsumsi mie, hati-hati deh. Karena tak sedikit pembuat mie basah jaman sekarang yang sering menggunakan formalin. Bahkan, makanan sejenis ikan asin dan tahu juga bisa diproduksi menggunakan formalin.
Bila terlalu banyak mengonsumsi makanan jenis ini, maka tubuh akan bekerja keras untuk mengeluarkan racun. Bila terlalu sering, bahkan bisa membahayakan organ seperti ginjal dan hati.

3. Pewarna Tekstil
Kalau yang ini sih sudah tidak asing lagi. Mungkin sejak SD, kita sudah diperingatkan bahwa makanan di luaran yang diberi saus merah itu menggunakan pewarna tekstil. Well, nyatanya hal itu memang benar. Bahkan bahan-bahan pembuatannya pun bukan bahan segar, melainkan bahan-bahan yang sudah terlalu matang, seperti tomat dan pepaya lama.

(c) frillsinthehills.com(c) frillsinthehills.com
Kalau mau kita perhatikan, saus ini meninggalkan bekas warna saat tertinggal di tangan. Konon, pembuatannya pun tidak higienis. Daripada mengambil resiko, tak ada salahnya untuk mulai berhenti menggunakan saus sejenis ini untuk jajanan Anda. Selain saus, waspadai minuman limun-limunan yang banyak dijual di sekolah.

4. Plastik
Nah lho, serem banget kan membayangkan ada plastik yang kita makan? Bila Anda membeli gorengan di jalanan, pastikan sang penjual tak menggunakan plastik sebagai tambahan untuk menggoreng karena bahan inilah yang bisa membuat gorengan terasa renyah. Bila ingin cara yang aman, buat saja gorengan ala Anda sendiri atau memilih agen penjual kue yang higienis dan terjamin.

5. Snack Kemasan Kadaluarsa
Kadang ibu-ibu yang 'sayang anak' membelikan snack kemasan yang bisa dibeli secara grosir di pasaran. Namun tahukah Anda, dalam beberapa tahun ini banyak sekali penjual yang sengaja menjual jajanan kadaluwarsa. Ada yang tetap menjual meski sudah kadaluwarsa beberapa hari, bahkan sebulan.
Oh, Mom, jangan ambil resiko. Pastikan Anda memperhatikan tanggal kadaluwarsa dan kandungan dalam makanan kemasan yang Anda belikan untuk anak-anak.

Jajanan sekolah dan pasaran, memang enak dan menggoyang lidah. Namun demi kesehatan, tak ada salahnya untuk lebih cermat dan selektif memilih apa yang kita makan.

Waspadai Dan Kenali Tanda-tanda Anak Dehidrasi


Dehidrasi pada anak seringkali tidak disadari oleh orang tua. Menurut dokter spesialis nutrisi dan penyakit metabolik anak dari Fakultas Kedokteran Indonesia (FKUI) Titis Prawitasari, anak biasanya gemar bermain sehingga orang tua menganggapnya ceria tanpa memperhatikan tanda-tanda dehidrasi padanya.

Faktanya, cairan merupakan salah satu unsur terpenting bagi tubuh, di samping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Cairan menyusun sebagian besar volume tubuh, yaitu 55 persen pada wanita, 60 persen pada pria, bahkan 75 persen pada anak.

"Oleh karena besarnya prosentase cairan dalam tubuh anak, orang tua perlu mengenali tanda-tanda anak terkena dehidrasi," ujar Titis.

Titis menjelaskan, ada beberapa gejala atau tanda anak terkena dehidrasi. Para orang tua perlu  mengenali gejalanya berikut ini :

Pada bayi, usia 0 hingga 1 tahun, tanda-tandanya adalah ; mulut kering dan bibir pecah-pecah, saat menangis nyaris tidak ada air mata yang keluar, anak tampak mengantuk, lemas, gelisah dan mata cekung, muncul cekungan di daerah ubun-ubun, tangan dan kaki pucat, kencing berkurang dan lebih pekat dan bau, jika sudah dehidrasi berat maka tekanan turgor tubuh menurun sehingga ketika dicubit tidak segera kembali.

Pada balita, hampir sama gejalanya dengan bayi, yaitu mulut kering dan bibir pecah-pecah, saat menangis nyaris tidak mengeluarkan air mata dan mata cekung, tampak selalu mengantuk, tidak bergairah, lemas, dan rewel atau gelisah, tekanan turgor tubuh menurun, buang air kecil tidak teratur atau di luar frekuensi yang biasa dengan volume lebih sedikit dari biasanya dan warna lebih gelap atau lebih kuning, merasa haus yang tidak seperti biasanya.

"Jika masih dehidrasi ringan hingga sedang ketika diberi minum, anak minum dengan terburu-buru, namun ketika sudah berat maka malah tidak bergairah ketika diberi minum," papar Titis.

Kekurangan cairan atau dehidrasi dapat menyebaban berbagai gangguan kesehatan. Dehidrasi terjadi karena asupan cairan tidak sebanyak cairan yang dikeluarkan oleh tubuh. Kebutuhan cairan bagi orang dewasa mencapai 2.000-2.500 ml per-hari, sedangkan pada bayi dan balita mencapai 140-160 ml per kilogram berat badan.

Penulis : 
Unoviana Kartika
Editor :
Asep Candra

Ajari Anak Rajin Rawat Gigi Susu Agar Miliki Gigi Rapi
















Ilustrasi: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia memandu siswa sekolah tentang menggosok gigi yang benar saat peluncuran gerakan 21 Hari Tari dan Sikat Gigi di SD Negeri Buaran 1 dan 2, Serpong, Tangerang Selatan, Minggu (11/3/2012). 

 
Umumnya gigi anak tumbuh secara normal dengan urutan teratur. Namun, gigi susu yang tidak dirawat bisa menyebabkan susunan gigi permanen tidak rata dan bertumpuk.

Salah satu langkah terpenting untuk memiliki gigi yang rapi adalah mulai merawat gigi susu.
"Gigi susu menjadi panduan tumbuh gigi permanen. Keteraturan perawatan dan tumbuh serta tanggal, menentukan baiknya tidaknya struktur gigi ketika dewasa," kata Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia, drg. Zaura Rini Anggraini, MDS.

Perawatan bisa dilakukan dengan rajin membersihkan gigi anak dan kunjungan ke dokter gigi. Untuk pembersihan bisa menggunakan cotton bud atau kasa halus yang dicelup ke air matang lalu dibersihkan ke gigi anak. Setelah gigi anak tumbuh, mulai ajarkan menyikat gigi dengan sikat dan pasta gigi khusus anak.

Sedangkan untuk kunjungan ke dokter gigi, Zaura mengatakan kunjungan ini tidak selalu bersifat kuratif, terutama saat usia anak masih di bawah 6 tahun. Kunjungan ini merupakan observasi apakah gigi anak tumbuh dengan baik atau tidak.

Melalui observasi akan diketahui apakah gigi tumbuh dan tanggal secara teratur. Bila tidak, bisa dilakukan tindak pencegahan supaya gigi tidak bergeser.

"Tindakan ini dinamakan preventif ortodontia, misalnya dengan penggunaan ring. Ring ini dipasang pada gigi yang seharusnya sudah tanggal, untuk mencegah pergeseran," kata ketua  Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof. Dr. H. Eky S. Soeria Soemantri.

Menurut Eky tidak mengapa bila gigi susu yang tanggal menyimpang dari urutan. Namun penyimpangan inii tidak boleh luput dari perhatian dokter gigi.

Gigi yang akan tanggal, lanjut Eky, akan mengalami desakan pada akarnya dari benih gigi baru. Desakan akar dan kekuatan gigi susu tidak sama pada setiap anak, sehingga ada kemungkinan gigi lepas tidak sesuai urutan. Pada kondisi ini, tempat kosong tersebut bisa diisi benih gigi baru atau pergeseran gigi susu sekitarnya. Dengan gigi susu lama yang belum tanggal dan disusul gigi permanen yang sudah tumbuh, akibatnya gigi menjadi berjejal. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya gigi tonggos, gingsul, atau miring.

"Di sinilah pentingnya observasi. Kondisi tersebut bisa dicegah sejak dini. Pada anak koreksinya tidak perlu sampai menggunakan kawat gigi," kata Eky.

Urutan tumbuh-tanggal

Eky menjelaskan urutan tumbuh gigi susu, yang dimulai sejak usia anak 6 bulan. Urutan pertama adalah gigi seri tengah atas, yang disusul gigi yang sama untuk rahang bawah. Urutan selanjutnya makin ke belakang yaitu gigi seri samping kanan-kiri, untuk rahang atas dan bawah. Gigi selanjutnya adalah taring, yang diakhiri geraham untuk rahang atas dan bawah. Pertumbuhan gigi susu berakhir saat usia anak 4 tahun, dengan jumlah total 20 buah.

Gigi susu mulai tanggal saat usia anak 6-7 tahun, dan berakhir di usia 11-12 tahun. Eky mengatakan, urutan tanggal gigi susu berbeda pada rahang atas dan bawah. Untuk rahang atas urutannya adalah seri, geraham, dan taring. Sedangkan rahang bawah urutannya adalah seri, taring, dan geraham.

Yang patut diperhatikan, kata Eky, adalah gigi geraham paling belakang. Gigi ini baru muncul pada usia 6-7 tahun. Kebanyakan orangtua salah mengira gigi ini sebagai gigi susu, dan akan diganti. Padahal gigi ini bersifat permanen dan tidak ada gantinya bila rusak. "Gigi ini biasanya sudah rusak pada usia 8-9 tahun. Karena itu, bersihkanlah gigi susu sebelum terlambat," kata Eky. 

Rosmha Widiyani health.kompas

Minum Obat Hidung Mampet Saat Hamil Berisiko Bayi Lahir Cacat

ibu-hamil-puasaJakarta, Masa-masa kehamilan adalah masa yang paling penting bagi ibu hamil dan jabang bayi. Oleh karena itu, ibu harus menjaga kondisi fisik dan kesehatannya. Ada banyak pantangan yang sebaiknya dihindari, termasuk beberapa makanan dan obat tertentu, salah satunya dekongestan.

Dekongestan adalah obat yang digunakan untuk meringankan gejala hidung tersumbat. Sebuah penelitian yang dilakukan ilmuwan dari Universitas Boston menemukan bahwa dekongestan yang sering dibeli tanpa resep dokter mengandung fenilefrin dan pseudoefedrin, senyawa yang dapat meningkatkan risiko cacat lahir.

Lebih rinci lagi, penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan dekongestan pada trimester pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko janin di kandungan terlahir cacat. Walau kasusnya cukup jarang, kecacatan yang berkaitan dengan obat tersebut adalah kelainan pada saluran pencernaan, telinga, dan hati.

"Cacat lahir besar terjadi sekitar dua sampai tiga persen dari bayi lahir hidup, sehingga ini jarang terjadi. Penelitian mengidentifikasi bahwa kecacatan umumnya terjadi kurang dari 1 per 1.000 bayi. Beberapa di antaranya mungkin memerlukan operasi, tetapi tidak semuanya mengancam jiwa," kata peneliti, Dr Allen Mitchell seperti dilansir New York Daily News, Senin (29/7/2013).

Dr Mitchell menganalisis sejumlah data bayi yang lahir dengan kecacatan dari tahun 1993 hingga 2010. Para ibunya juga diwawancarai, baik ibu dari bayi lahir cacat karena masalah kromosom ataupun bukan. Ada sebanyak 12.700 bayi yang dilahirkan cacat, lalu dibandingkan dengan jawaban para ibu dari 7.600 bayi tanpa cacat.

Para ibu ditanya tentang obat yang diminumnya saat hamil dan 2 bulan sebelum hamil. Hasilnya menemukan bahwa penggunaan obat yang mengandung fenilefrin pada trimester pertama kehamilan 8 kali lipat meningkatkan risiko cacat jantung pada bayi atau akrab disebut endocardial bantal cacaendocardial cushion defect.

Penggunaan fenilpropanolamin atau Acutrim juga 8 kali lipat meningkatkan risiko cacat telinga dan perut. Hanya saja, ini adalah untuk pertama kalinya peneliti menemukan hubungan antara penggunaan pseudoefedrin saat trimester pertama kehamilan dengan peningkatan risiko cacat 3 kali lipat.

Penggunaan imidazolines yang ditemukan dalam semprotan dekongestan hidung dan tetes mata juga ditemukan meningkatkan risiko abnormalitas pada trakea dan esofagus setinggi 2 kali lipat. Namun dr Mitchell memperingatkan, risiko cacat pada bayi yang ibunya tidak meminum dekongestan adalah sekitar 3 bayi per 10.000 kelahiran hidup.

"Bahkan peningkatan risiko 8 kali lipat yang ditunjukkan oleh hasil penelitian, walau kedengarannya besar, sebenarnya adalah sekitar 2,7 dari 1.000 kemungkinan bayi mengalami cacat, katanya. Apabila asumsi temuan ini benar, para peneliti masih belum bisa berspekulasi mengapa obat ini dapat berkaitan dengan cacat bayi," katanya.

Oleh karena itu, dr Mitchell menuturkan bahwa penelitiannya ini sudah menjadi bukti yang cukup buat mengapa ibu hamil sebaiknya tidak direkomendasikan diberi dekongestan. Karena obat seperti ini banyak tersedia bebas, dokter sebaiknya mengevaluasi kebutuhan ibu hamil berdasarkan kasusnya. (pah/vta)

Sumber: health.detik.com

Tayangan Ramadan Memprihatinkan, Orangtua Harus Dampingi Anak Menonton

Ilustrasi Nonton TV
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melayangkan surat teguran kepada enam program Ramadan yang ditayangkan beberapa stasiun TV, yaitu Sahurnya Pesbukers (ANTV), Hafidz Indonesia (RCTI), Sahurnya OVJ (Trans 7), Yuk Kita Sahur (Trans TV), Karnaval Ramadhan (Trans TV), dan Mengetuk Pintu Hati (SCTV).

Keenam program ini dinilai telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran KPI.
"Pelanggaran yang dilakukan menyangkut tayangan komedi yang menampilkan lelucon melecehkan orang dengan kondisi fisik tertentu atau orang dengan orientasi seks tertentu, serta melanggar norma kesopanan dan Undang-undang Perlindungan Anak,” kata Nina Mutmainnah Armando, Komisioner Bidang Isi Siaran KPI di Jakarta, Kamis (25/7).

Banyaknya teguran yang diterima program Ramadan yang tayang saat sahur dan berbuka puasa ini memperlihatkan, bahwa tayangan Ramadan di TV banyak yang belum ramah anak. Padahal menurut Nina, penonton anak-anak pada jam tayang tersebut cukup banyak.

"Selain menuntut agar stasiun televisi berkomitmen mematuhi peraturan penyiaran yang berlaku, kita sebagai masyarakat memang harus melek media, harus kritis dalam memilih tayangan yang bermanfaat bagi diri dan keluarga," tegas Nina.

Sebagai orangtua, tambah Nina, kita juga harus bisa menyeleksi tayangan mana yang layak atau berbahaya untuk anak kita. "Melakukan pendampingan saat anak menonton televisi juga sangat penting," pesannya.

Hal senada juga diungkapkan pemerhati anak Seto Mulyadi. Menurutnya, saat melakukan pendampingan, anak harus diberikan pemahaman tentang acara yang sedang ditontonnya.
"Diskusikan pada anak apa yang salah menurut agama, moral dan sosial dari tayangan yang sedang ditonton. Misalnya bila ada pelawak yang membuat lelucon dengan cara menghina orang lain, katakan pada dia kalau hal itu tidak baik," papar pria yang biasa disapa Kak Seto ini.

Cara ini menurutnya, lebih efektif ketimbang melarang anak untuk menonton tayangan televisi. "Kalau hanya dilarang, misalnya dengan kalimat 'jangan menonton tayangan televisi ini', biasanya anak akan bertanya dalam hati, 'Kenapa ya dilarang?' Akhirnya mereka malam penasaran dan mencuri-curi kesempatan untuk nonton acara yang dilarang tersebut," tambah Kak Seto.

Bila kondisi ini dibiarkan, karakter anak akan terbentuk seperti apa yang dilihatnya di televisi. "Anak-anak umumnya selalu meniru apa yang mereka lihat. Jadi sangat mungkin perilaku dan sikap mereka akan meniru kekerasan atau perbuatan tidak sopan yang ditayangkan di televisi yang mereka tonton," tegas Kak Seto.

Penulis: Herman/RIN

Menghilangkan Rasa Takut pada Anak

RASA takut yang dialami anak adalah hal biasa. Namun, ada baiknya Anda membantu mengatasinya agar ketakutan tersebut tak berlanjut menjadi fobia.

Merasa cemas dalam situasi tertentu yang tidak nyaman, tentu tidak pernah menyenangkan. Namun, ketakutan sebenarnya merupakan suatu keadaan alamiah yang membantu individu melindungi dirinya dari suatu bahaya, sekaligus memberi pengalaman baru. Bahkan, pada anak-anak, perasaan seperti ini tidak hanya normal, tetapi juga sangat dibutuhkan.

Merasakan dan mengatasi rasa cemas dapat membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengalaman-pengalaman yang membingungkan dan situasi yang menantang dalam kehidupan. Memiliki ketakutan dan kecemasan terhadap hal-hal tertentu sebenarnya bisa membantu untuk menjaga tingkah lakunya. Contohnya, seorang anak dengan ketakutannya terhadap api akan membuatnya menghindari bermain dengan korek api.

Ironisnya, ketakutan pada anak justru muncul karena “ditularkan” orangtuanya. Karena takut pada sesuatu atau kondisi tertentu, tanpa sadar orangtua akan melarang anak dengan cara menakut-nakutinya. Misalnya, “Awas ada kucing, nanti kamu dicakar!” Atau “Pokoknya, kalau makannya enggak habis, Mama panggilin dokter biar nyuntik kamu!”.

Memang, metode semacam ini amat tokcer untuk “memaksa” anak mau menuruti keinginan orangtua. Alhasil, anak selalu takut jika melihat bahkan mendengar suara sosok siapa pun atau binatang yang baginya telanjur dianggap menyeramkan. Padahal, sosok ataupun binatang yang selama ini dianggap menakutkan si kecil tersebut, sebetulnya sama sekali tak berbahaya.

Bentuk ekspresi ketakutan itu sendiri bisa macam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi, atau tak mau lepas dari orangtuanya. Biasanya, rasa takut ini akan hilang sendirinya seiring berjalannya waktu. Saat anak merasa aman dengan dirinya sendiri ataupun lingkungannya, hilanglah rasa takut tadi. Tentu saja diperlukan dukungan orangtua.

Yang jadi masalah adalah, bilamana rasa takut mengendap dan tak teratasi sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari anak. Bahkan, bisa mengarah jadi ketakutan yang bersifat patologis. Malah, bisa berlanjut ke fobia alias ketakutan berlebihan karena pernah mengalami kejadian tertentu atau trauma.

Trauma tersebut dapat berupa psikologis atau fisik. Misalnya gara-gara takut tikus; tiap kali melihat hewan itu, dia akan menjerit ketakutan. Fobia juga mulai setelah adanya tekanan yang umum dalam kehidupan. Sekali fobia telah terjangkit maka dapat menjalar ke pancaindra lainnya.

Jika sampai mengarah pada fobia, kehidupan anak dapat terhambat. Bahkan, apabila terlalu hebat rasa takutnya, si anak tidak dapat berbuat apa pun. Mengapa? Karena bagi sebagian orang, fobia sulit dipahami. Itu sebabnya, hal ini sering dijadikan bulan-bulanan, ejekan, ledekan teman-teman sekitarnya.

“Jika tidak dilakukan terapi dan perawatan intensif, anak-anak yang menderita ketakutan berlebihan ini akan berisiko besar membawanya hingga dewasa kelak,” kata Lena Reuterskiöld, terapis fobia dari The Swedish Research Council.

Objek ketakutan anak itu sendiri dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu ketakutan terhadap suatu benda atau binatang tertentu, misalnya api, kecoa, tikus. Lalu, ketakutan terhadap situasi tertentu. Takut akan tempat terbuka atau takut ketinggian misalnya. Jenis ketakutan terakhir adalah ketakutan terhadap suatu suasana sosial tertentu. Misalnya takut berada di kelas baru.

Untuk mengatasi rasa takut yang berlebihan pada anak, yang harus dilakukan orangtua adalah membangunkan konsep diri anak yang positif sehingga percaya diri sebagai modal untuk memasuki dunia luarnya. Usahakan anak mengenal namanya dengan segala predikat positif yang disandangnya. Beri kesempatan anak berinteraksi dengan dunia luarnya. Libatkan dalam setiap aktivitas sosial yang memungkinkan keterlibatannya, misalnya menghadiri pertemuan keluarga atau belanja di toko.

Tidak kalah penting adalah membangun komunikasi dengan anak selama proses interaksi berlangsung. Orangtua mengenalkan orang-orang, tempat atau suasana yang terjadi selama kegiatan tersebut berlangsung. Menanyakan dan memahami perasaan yang dialami anak selama kegiatan berlangsung. Selain itu, berikan jaminan bahwa lingkungan tempat dia berada sekarang merupakan tempat yang menyenangkan dan dipenuhi orang-orang yang menyenangkan pula.

Sebaiknya Anda juga menanamkan sifat keberanian. Mulailah dengan hal-hal yang kecil. Misalnya mulai membiasakan si kecil ke kamar mandi sendiri. Bila si kecil sudah menginjak usia 3 atau 4 tahun, ada baiknya Anda mulai membiasakan si kecil untuk tidur sendiri. Mematikan lampu saat tidur juga bisa mulai dicoba.

Orangtua juga dapat melakukan sikap empati dan mendukung. Sikap empati dapat ditunjukkan orangtua dengan cara memahami dan memandang hal tersebut dari sudut pandang anak. Bantulah anak memahami apa yang sedang dia alami atau rasakan saat itu.

Berikanlah kesempatan kepada anak untuk membicarakan apa yang sedang dia rasakan atau yang sedang dia alami tersebut. Berikanlah penjelasan dan yakinkanlah secara bijak kepadanya bahwa apa yang ditakutkannya tersebut adalah tidak benar.

Pada saat anak merasa takut, mainan adalah salah satu hal yang dapat menghibur anak tersebut. Ketika anak sakit misalnya, mainan yang mereka sukai dan memadai pula untuk kondisi mereka dapat digunakan sebagai pendamping mereka sehingga ada hiburan yang mereka rasakan. Selain itu, mainan juga dapat mengalihkan perhatian dari stres yang anak alami.

Jika ketakutan anak Anda terlihat berlebihan seperti penyebab stres, ini mungkin adalah sebuah pertanda akan kebutuhan untuk mencari pertolongan dari luar seperti pada konselor, psikiater, atau psikolog.

Para orangtua sebaiknya memperhatikan polanya. Jika insiden ini bisa diselesaikan, jangan membuatnya lebih signifikan lagi dari itu. Akan tetapi, apabila polanya terlihat terus-menerus sama, para orangtua harus melakukan sebuah tindakan. Jika tidak, fobianya akan terus berpengaruh pada sang anak. Hubungilah dokter atau ahli kesehatan mental yang terbiasa bekerja sama dengan anak-anak dan remaja.

Televisi Dapat Memperbaiki Perilaku Anak


Televisi berpengaruh besar terhadap anak-anak. Mereka kebanyakan meniru perilaku yang mereka lihat di layar televisi, baik atau buruk. Mengganti saluran televisi dari acara kekerasan ke acara pendidikan dapat memperbaiki perilaku anak-anak prasekolah. Studi terkini yang diterbitkan di jurnal Pediatrics menyebutkan bahwa daripada mencoba untuk membatasi menonton televisi, yang terbaik adalah mengganti saluran televisi ke acara yang mendorong perilaku positif.
“Solusinya bukan hanya mematikan televisi, tetapi juga mengubah saluran. Apa yang anak-anak tonton sama pentingnya dengan berapa banyak mereka menonton,” kata Dr Dimitri Christakis, seorang dokter anak dan peneliti di Seattle Children Research Institute.
Penelitian ini melibatkan 565 orangtua di Seattle, yang secara berkala mengisi buku harian menonton TV dan kuesioner yang mengidentifikasi perilaku anak mereka. Setengah orangtua selama enam bulan hanya membolehkan anak-anak mereka yang berusia 3-5 tahun untuk menonton acara seperti “Sesame Street” dan “Dora the Explorer” yang mengajarkan sikap pro-sosial dan pelajaran hidup, daripada program yang sarat kekerasan seperti “Power Rangers.” Hasilnya dibandingkan dengan setengah anak-anak pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan intervensi apa pun.

Perilaku lebih positif

Dibandingkan dengan pada kelompok kontrol, anak-anak pada kelompok intervensi menghabiskan lebih sedikit waktu menonton acara kekerasan setelah 6 dan 12 bulan dibandingkan pada awal penelitian. Sebelum penelitian, anak-anak itu rata-rata menghabiskan 1 1/2 jam setiap hari di depan TV, video dan permainan komputer yang seperempat kontennya mengandung kekerasan.
Dalam enam bulan, anak-anak di kedua kelompok menunjukkan perilaku positif, namun skor pada kelompok intervensi 2,11 poin lebih tinggi daripada kelompok kontrol, yang menunjukkan adanya penurunan agresi dan peningkatan perilaku pro-sosial. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi itu berdampak positif terhadap perilaku anak-anak.
“Ini penting karena anak-anak berada pada risiko terbesar, baik untuk menjadi pelaku agresi, maupun menjadi korban agresi dalam kehidupan nyata,” kata Christakis.
Penelitian ini memiliki kelemahan karena para orangtua tidak diberitahu tujuan penelitian, tetapi penulis mengakui bahwa hal itu agar mereka tidak melakukan sesuatu yang mungkin memengaruhi hasil.

Tidak berlebihan

Namun demikian, orangtua tetap perlu memahami potensi risiko kesehatan yang terkait dengan menonton televisi berlebihan pada anak-anak. Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, telah menemukan bahwa kebugaran otot anak-anak berkurang pada setiap jam yang dihabiskan di depan televisi dan lingkar pinggang mereka menjadi lebih besar dari rata-rata ketika mereka mencapai usia remaja, yang berpotensi risiko kesehatan di masa dewasa mereka. Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics, anak-anak di bawah usia dua tahun tidak boleh menonton televisi lebih dari dua jam sehari.
————————-
Sumber:  Modifying Media Content for Preschool Children: A Randomized Controlled Trial, Pediatrics, 18 Feb 2013.

Waspadai Rematik pada Anak dan Ibu Hamil

Rheumatoid Arthritis atau dikenal dengan istilah rematik adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada lapisan sendi. Peradangan menyebabkan “kekeliruan” sehingga jaringan tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuh itu sendiri.

Rematik juga merupakan gangguan kronis. Jadi, meskipun Anda merasakan gejalanya sesekali, penyakit ini dapat memburuk dari waktu ke waktu dan bahkan sulit untuk sembuh.

Biasanya, penyakit ini dialami oleh orang dewasa berusia 30 – 60 tahun atau memiliki riwayat keluarga yang rematik dan kebiasaan merokok. Namun, ada juga beberapa orang yang mengalaminya pada usia yang jauh lebih muda. Misalnya saja pada anak-anak.

Juvenile Rheumatoid Arthritis (JRA) adalah jenis arthritis yang paling umum terjadi pada anak-anak. Seperti halnya orang dewasa, rematik pada anak juga dapat menyebabkan peradangan sendi, kekakuan, dan kerusakan tulang.

Yang lebih parah dari itu semua, rematik dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.
JRA juga dikenal sebagai juvenile idiopathic arthritis . Dikatakan "idiopatik" karena memang tidak tidak diketahui penyebabnya.

Pada wanita dewasa, jika sebelumnya ia mengalami rematik, penyakit ini bisa membaik hingga 80 persen selama kehamilan. Namun, rematik bisa kambuh kembali setelah melahirkan.
Hingga kini, bagaimana dan mengapa hal ini bisa terjadi masih belum jelas.

Namun jika Anda memiliki penyakit ini dan berencana ingin hamil, ada baiknya Anda mengkonsultasikannya terlebih dahulu kepada dokter Anda. Dengan begitu dokter bisa menyarankan perawatan dan pengobatan yang aman bagi Anda.

Biasanya bagi wanita yang mengalami hal ini akan mendapatkan perubahan pengobatan saat sebelum hamil dan selama kehamilan.

Membedong Bayi, Boleh Kok! Itu Ide Bagus!


Boleh, kok, membedong bayi, asal caranya benar sehingga bayi bisa merasa hangat dan nyaman. Jika sebelumnya sempat ada yang melarang bedong, hal ini terpatahkan oleh pengamatan Raleigh, konsultan tidur bayi dari North Carolina, Amerika Serikat.

Kata Raleigh, membedong terbukti dapat membuat lebih nyaman sehingga bayi tak mudah rewel, mencegah bayi baru lahir tidur menelungkup yang dapat membahayakannya, hangat, juga merasa aman karena mengingatkannya pada saat ia di dalam kandungan, sementara dunia ini masih asing baginya. Tak hanya Raleigh, Dr Harvey Karp, ahli masalah bayi tidur, serta American Academy of Pediatrics, menganjurkan membedong bayi.

Jika membedong bayi dianggap berbahaya, mungkin sudah ada ribuan orangtua melaporkan kejadian berbahaya, tapi ternyata tidak. Dengan membedong, bayi akan terhindar dari SIDS (sudden infant death syndrome) atau kematian mendadak saat tidur, karena bayi tetap pada posisi terlentang.

Itulah mengapa, disarankan untuk membedong bayi sejak bayi lahir hingga bisa berguling. Namun begitu, sebaiknya bayi jangan terus-menerus dibedong. Kita perlu memberikan ia kebebasan untuk bergerak, misalnya saat sedang bermain, pun jika kita masih sharing tempat tidur karena dikhawatirkan membuatnya kepanasan.

Berikut cara membedong yang benar:

1. Rentangkan selimut bayi, lalu lipat 1/6 di bagian atasnya.
2. Letakkan bayi di atas selimut, lalu masukkan tangan kanan dan kirinya ke dalam lipatan.
3. Bungkus bayi dengan melipat tangan kiri atau kanan bersamaan dengan selimut ke arah perut.
4. Lipat bagian bawah selimut ke arah belakang supaya kaki bayi tertutup rapat.
5. Yang perlu diingat saat membedong, gunakan selimut yang lembut dan nyaman, jangan terlalu kencang,    dan jangan menutupi mulut atau hidung karena membuat bayi sulit bernapas.

(Tabloid Nakita)

Cara Menerangkan Haid pada Anak

Satu hari nanti, anak perempuan Anda pasti akan mengalami haid. Yang jadi permasalahannya, apakah Anda akan menerangkan haid pada anak? Atau Anda akan menjelaskan ketika mereka sudah bertanya? Atau Anda lebih memilih diam dan membiarkan anak perempuan Anda menemukan semua jawabannya? Banyak orang tua yang kebingungan menerangkan haid pada anak remajanya. Haid masih dianggap tabu untuk diterangkan pada anak yang belum dianggap cukup usianya. Padahal jika si anak sudah terlanjur haid sebelum diterangkan, anak bisa kalang kabut karena panik.

Menerangkan haid memang harus dilakukan sejak dini, dimana anak belum mendapatkan haid. Hal ini dilakukan agar ketika suatu saat si anak mendapatkan haid dia tetap tenang.  Menerangkan haid pada anak dapat memberikan gambaran mengenai satu periode alamiah yang pasti akan dialami setiap bulannya oleh anak perempuan. Dengan menerangkan pada anak lebih awal, mereka tidak akan kaget saat menemukan bercak merah atau darah di celana mereka. Mereka juga dapat mengambil tindakan yang tepat saat periode itu datang.

Menerangkan haid pada anak tidak sesukar yang dibayangkan, kok. Berikut langkah yang bisa Anda praktikkan dalam menerangkan haid pada anak.
  1. Lebih awal lebih baik
    Bukan berarti saat anak masih balita langsung Anda perkenalkan dengan haid, tapi saat anak mulai memasuki masa pubertas  ada baiknya Anda mulai memperkenalkan apa itu haid. Bila anak perempuan Anda malah bertanya terlebh dahulu sebelum Anda menerangkannya, jangan menghindar. Jawablah pertanyaannya tanpa berusaha menutupinya. Seperti biasa anak memang akan banyak bertanya dan jawaban Anda akan membuatnya semakin memahami haid lebih dalam.
  2. Mudah dipahami
    Gunakanlah cara yang mengasyikkan dalam menerangkan haid pada anak. Anda bisa menggunakan gambar yang berwarna, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh setiap perempuan dan wanita, bagaimana proses haid itu terjadi, mengapa haid harus terjadi pada perempuan, gejala apa yang mengawali haid, apa arti haid pada perempuan, dan sebagainya. Meteri yang perlu diterangkan memang banyak, namun jangan diskusikan semuanya dalam satu waktu. Jangan seolah mengguruinya, namun buatlah seperti Anda sedang bercerita padanya. Jangan gunakan contoh yang terlalu jauh, gunakanlah Anda, ibunya, sebagai contoh. Misalnya, bila Anda hendak memberi contoh menjalani haid, ceritakan bagaimana saat Anda remaja mengalami haid Anda.
  3. Santai
    Carilah momen yang tepat untuk menerangkan haid pada anak agar mereka bisa dan mau mendengarkan dengan saksama. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah memahaminya. Duduklah bersamanya, ciptakan suasana yang menyenangkan.
Nah, sudah siap menerangkan haid pada anak? Jangan khawatir dan jangan menganggapnya tabu. Dengan semakin dini menerangkannya justru membuat Anda lebih mudah memandunya untuk tumbuh besar tanpa panik.

sumber : artikelkesehatanwanita.com

Waspadai Efek Samping Penggunaan Dot

klinik kesehatanku
Banyak ibu menyusui belum menyadari bahwa efek samping penggunaan dot bukan hanya membuat bayi berisiko mengalami binggung puting, tetapi juga membuat payudara mereka "kalah" dengan dot, sehingga produksi Air Susu Ibu (ASI) menjadi berkurang.

Demikian disampaikan Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI) Nia Umar saat acara talkshow di ajang Breastfeeding Fair 2012 yang berlangung di Grand Indonesia Shopping Town – Eastmall Level 2 (Exhibition Hall), Jakarta Jumat, (4/5/2012).

"Ketika bayi menyusu lewat payudara, ia dapat mengatur jumlah susu yang mengalir dari payudara. Tetapi dengan botol, tanpa dihisap pun susu bisa mengalir lebih cepat. Inilah yang membuat bayi akhirnya menolak untuk menyusui lewat payudara ibunya," tuturnya.

Nia mengatakan, penggunaan dot untuk asupan makanan bayi kini sudah menjadi tren atau kebiasaan masyarakat Indonesia. Padahal kata Nia, pada tahun 60-an masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kulturnya menyusui.

Gencarnya iklan dan promosi susu formula yang masuk, memiliki kontribusi dalam mengubah pola pikir dan norma yang selama ini sudah ada di masyarakat, sehingga aktivitas menyusui kalah dengan penggunaan dot atau botol. "Kita bisa perhatikan di mana-mana orang melahirkan dikasih hadiah botol. Padahal belum tentu dia butuh," tegasnya.

Selama menyusui, bayi menggunakan rahang dan bibir untuk memompa dan mencekeram puting, sehingga membantu merangsang produksi ASI. Menyusu langsung dari payudara juga membantu pembentukan rahang dan gigi bayi sesuai dengan pertumbuhan fisiologis mulut.

Tidak semua bayi, kata Nia, akan mengalami bingung puting. Beberapa bayi biasanya tidak memiliki masalah bila harus berganti-ganti menggunakan botol dan payudara. Cara terbaik yang dapat Anda lakukan adalah dengan terus memberikan ASI eksklusif pada bayi sebelum memperkenalkan botol pada 6 minggu pertama.

Berikut ini adalah tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bayi Anda sedang bingung puting :

- Bayi menyodorkan lidahnya ke atas selama mengisap dan mendorong payudara keluar dari mulutnya

- Bayi tidak membuka mulut cukup lebar. Akibatnya bayi hanya akan mengisap ujung puting sehingga dapat menyebabkan nyeri puting

- Bayi menjadi rewel dan mudah marah karena ASI tidak mengalir semudah ketika dia menggunakan botol

- Pasokan susu para ibu sering berkurang karena bayi tidak menyusu dengan benar.

sumber : dechacare.com

10 Tanda Anak Anda Punya Otak Cerdas

Hampir semua orang tua mengidamkan punya anak yang pintar dan cerdas. Pagi ini saya sedikit berbagi tips untuk mengenali Ciri Ciri Anak yang Pintar dan Cerdas...

1. Mempertahankan Informasi: Istilah "masuk telinga kiri keluar telinga kanan" nampaknya berlaku bagi kebanyakan anak. Akan tetapi anak yang pintar benar-benar mempertahankan berbagai informasi dan mampu mengingatnya di lain waktu. Sebuah contoh dari National Association of Gifted Children (NAGC) ialah: "Seorang anak berusia enam tahun kembali dari perjalanan museum ruang angkasa dan mereproduksi kembali secara akurat gambar roket ruang angkasa yang telah dilihatnya..
2. Memiliki Ketertarikan Luas: Anak pintar menampilkan minat dalam berbagai topik. Mereka mungkin suka dengan dinosaurus dalam satu bulan, ruang angkasa bulan berikutnya, dan seterusnya.
3. Menulis dan Membaca Lebih Awal: Jika anak anda adalah seseorang yang pintar, dia mungkin dapat membaca dan menulis sangat dini dan tanpa pengajaran formal.
4. Berbakat di Bidang Musik atau Seni: Anak yang menampilkan bakat luar biasa untuk musik dan seni sering dianggap pintar. Anak yang dapat menggambar, bernyanyi dengan sempurna, atau menampilkan bentuk persepsi seni yang tinggi lainnya biasanya masuk dalam kategori anak pintar..
5. Menunjukkan Waktu Konsentrasi Intens: Anak tidak begitu identik dengan rentang perhatian yang panjang, tapi anak pintar mampu memiliki waktu lebih konsentrasi intens..
6. Memiliki Ingatan Baik: Beberapa anak pintar mampu mengingat hal-hal sewaktu mereka lebih kecil. Misalnya, anak berumur dua tahun mungkin ingat dan membawa kembali kejadian ketika dia berusia 18 bulan...
7. Memiliki Kosakata Tinggi: Seorang anak yang terlalu dini untuk berbicara bukan saja merupakan tanda kepintaran, tapi jika anak anda berbicara menggunakan kosakata yang lebih maju dan kalimat-kalimat, maka dia mungkin memang sepintar yang anda bayangkan. Menurut NAGC, "Anak pada usia dua tahun membuat kalimat seperti: 'Ada anjing.' Anak dua tahun yang pintar mungkin akan berkata, 'Ada seekor anjing di belakang rumah dan ia mengendus bunga.'"
8. Memperhatikan Detil: Anak pintar memiliki mata tajam untuk detil. Anak yang lebih tua mungkin ingin tahu rincian spesifik tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, sedangkan anak yang lebih muda akan dapat menaruh kembali mainan persis di mana ia mendapatkannya atau memperhatikan jika sesuatu telah dipindahkan dari tempat biasa.
9. Bertindak sebagai Kritikus Sendiri: Pada umumnya anak tidak terlalu khawatir tentang diri mereka sendiri atau orang lain, kecuali teman mereka memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Sebaliknya, anak pintar prihatin dengan orang lain, tapi yang paling penting diri mereka sendiri..
10. Memahami Konsep Kompleks: Anak yang sangat pintar memiliki kemampuan untuk memahami konsep yang kompleks, memahami hubungan, dan berpikir abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara mendalam dan berpikir tentang solusi...

sumber : diaryeee.blogspot.com

6 Langkah Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh Anak


Balita akan sangat mudah sekali jatuh sakit karena sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk secara sempurna. Sebagai orang tua, Anda harus mengetahui cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak agar anak tetap sehat.

Anak mudah sekali terpapar bakteri berbahaya atau virus ketika bersentuhan dengan mainan yang kotor atau ketika merangkak di lantai. Tetapi untungnya, sistem kekebalan tubuh anak yang terdiri dari sekelompok antibodi dapat menangkis virus dan bakteri tersebut.

Seperti dilansir whattoexpect, Senin (27/8/12) berikut 6 cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak:

1. Memberikan ASI eksklusif

Bayi yang mendapatkan air susu ibu, tidak hanya sekedar mendapatkan asupan makanan saja. ASI mengandung antibodi dalam jumlah beasr yang dapat mendukung sistem kekebalan tubuh anak.

2. Pastikan anak memiliki jam tidur yang cukup

Bayi di bawah usia 6 bulan membutuhkan waktu tidur sebanyak 20 jam per hari. Sedangkan balita membutuhkan waktu tidur hingga 13 jam per hari. Jam tidur yang cukup akan membuat sistem kekebalan tubuh anak lebih kuat.

JIka anak terus kesulitan tidur dan kualitas tidurnya terus menurun akan menghambat produksi interleukin-1, protein yang diproduksi oleh sel-sel tertentu yang mencegah kuman penyakit memasuki tubuh melalui kulit.

3. Jangan terlalu berlebihan dalam menjaga kebersihan anak

Sistem kekebalan tubuh anak membutuhkan beberapa paparan bakteri dan virus untuk berlatih memeranginya, dimana hal ini merupakan cara kerja antibodi. Jika Anda terlalu berlebihan dalam menjaga kebersihan anak dengan menggunakan produk antibakteri, hal ini dapat membunuh semua bakteri yang penting bagi ketahanan tubuh.

4. Vaksinasi

Vaksinasi yang diberikan pada anak melalui imunisasi sangat penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit tertentu. Ketika anak mendapatkan vaksinasi, sistem kekebalan tubuhnya menguat dan antibodi siap melindungi tubuh dari virus atau bakteri asing.

Ada banyak sekali jenis vaksinasi yang dapat melindungi terhadap lebih dari selusin penyakit fatal dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak.

5. Berikan asupan makanan yang sehat

Pastikan menu makanan yang Anda berikan untuk anak mencakup semua nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan si kecil. Makanan seperti paprika, ubi, wortel, blueberi dan jeruk yang kaya akan vitamin C dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Untuk tumuh, anak juga membutuhkan protein yang dapat diperoleh dari produk susu dan daging, dan karbohidrat kompleks, dari biji-bijian seperti beras merah dan gandum utuh. Fungsinya untuk membantu menjaga sistem kekebalan tubuh tetap dalam kondisi optimal dan siap untuk membangun pertahanan melawan infeksi.

6. Jauhkan anak dari paparan asap rokok

Asap rokok memiliki sekitar 4.000 bahan kimia yang berbeda yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh siapa saja yang menghirupnya. Anak-anak yang terpapar asap rokok lebih rentan terhadap infeksi telinga, batuk, pilek, bronkitis, dan masalah pernapasan lainnya.

Sumber : Linda Mayasari

Melahirkan di dalam air (Water Birth)

Berminat melahirkan dalam air? Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Di Jakarta sudah ada yang menawarkan fasilitas itu. Seperti apa?
SAKIT! itulah yang ditakutkan kaum perempuan saat melahirkan. Tak heran bila teknik-teknik mengurangi sakit persalinan pun banyak diminati. Mulai persalinan Caesar, memakai bius epidural, hingga hipnobirthing atau melahirkan dengan dihipnotis agar tidak merasa sakit. Dan kini, teknik persalinan yang mulai banyak diminati adalah melahirkan dalam air.

Memang tidak ada teknik persalinan yang mampu menghilangkan rasa sakit hingga seratus persen. Paling cuma 80 persen saja. Tapi, kami ingin memberikan alternatif bagi para ibu yang akan melahirkan dengan mengurangi rasa sakitnya," ujarnya pada Bunda. Dijelaskan Otamar, proses melahirkan dalam air sebenarnya sudah ada sejak lama. Proses itu ditawarkan di Rusia pada l960-an oleh Igor Tjarkovsky. Sesuai perkembangan zaman, model persalinan itu pun terus berkembang ke Amerika Serikat, Eropa, dan Indonesia.

“Di Amerika sendiri melahirkan dalam air nggak begitu gampang diterima. Sebab, tahu sendirilah, mereka punya ego sendiri. Tapi, beberapa rumah sakit di Amerika sudah menggunakan teknik tersebut," ujar dokter yang juga praktik di Metropolitan Medical Center (MMC) itu. Di Indonesia sendiri, melahirkan dalam air mulai .diperkenalkan Oktober 2006 di Sammarie Clinic Healthcare. "Tapi, saya juga nggak tahu apakah ada yang lain. Di Klinik Sammarie sendiri sejak diperkenalkan Oktober 2006 sampai sekarang, sudah menangani sepuluh pasien. Dan yang berencana akan melahirkan dalam air juga masih banyak," papar Otamar.

KEUNTUNGAN

Dijelaskan Otamar dengan melahirkan dalam air pada dasarkan melahirkan secara normal, hanya saja tempatnya dalam air, bukan di tempat tidur. Teknik melahirkan dalam air tidak hanya menguntungkan ibu, tapi juga bayi yang dilahirkannya. Berikut ini keuntungan yang dapat diperoleh.

BAGI IBU
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh ibu yang melahirkan dalam air antara lain:

  • Rasa Sakit Berkurang

Dengan melahirkan dalam air, sakit akibat konstraksi dapat dikurangi hingga 60 persen. Sebab, dalam keadaan mengapung, kontraksi-kontraksi rahim akan lebih efisien, dan sirkulasi darah akan lebih baik. Sehingga, aliran oksigen ke otot-otot rahim akan lebih lancar, rasa sakit yang dialami ibu akan berkurang, dan pasokan oksigen untuk bayi akan lebih banyak.

  • Lebih Nyaman dan Rileks

Dengan berendam dalam air hangat, ibu akan lebih mudah mencari posisi yang dianggap nyaman untuk melahirkan. Si ibu hanya duduk, rileks dalam air sambil membuka kakinya dan tidak harus bergerak atau menarik nafas panjang. Sebab, air dengan sendirinya akan membantu memberikan dorongan tenaga.
“Ibu yang akan melahirkan itukan pasti stres karena sakit yang dirasakannya. Dengan berendam dalam air hangat, rasa stres itu dapat dikurangi, sehingga iya bisa merasa nyaman,” jelas Otamar.

  • Mengurangi Perobekan Perineum

Air hangat menyebabkan perineum (daerah antara vagina sampai anus) menjadi lebih elastis dan rileks. Sehingga mengurangi risiko robeknya jalan lahir dan kebutuhan melakukan episiotomi atau penjahitan.

  • Lebih Konsentrasi

Karena secara fisik lebih rileks, berendam dalam air hangat membuat ibu bisa lebih konsentrasi pada persalinannya.

  • Energi Meningkat

Pada tahap-tahap akhir persalinan, air dipercaya dapat meningkatkan energi ibu.

  • Turunkan Darah Tinggi

Berendam dalam air hangat dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi yang disebabkan oleh kecemasan.

  • Persalinan Lebih Singkat

Dalam berendam dalam air hangat, sirkulasi darah akan lebih baik, sehingga kontraksi rahim juga akan lebih baik. Itu berarti pembukaan jalan lahir akan lebih cepat, sehingga persalinan juga lebih cepat.

BAGI BAYI
Tak hanya ibu yang mendapat keuntungan dari melahirkan dalam air. Bayi yang dilahirkan pun akan mendapat manfaat, seperti:

  • Lebih Merah

Bayi yang dilahirkan dalam air terlihat lebih merah, karena darahnya lebih cukup.

  • Kulitnya Lebih Bersih

Bayi yang dilahirkan dalam air memiliki kulit lebih bersih dan tidak hanya kulit ari. Sebab, lemak-lemaknya akan langsung bersih terkena air hangat.

  • Resiko Cedera Kepala Kecil

Resiko cedera kepala pada bayi yang dilahirkan dalam air, lebih kecil. Sebab, ia akan langsung jatuh ke dalam air dan dengan sendirinya akan mengapung.

  • Lebih Cerdas

Meski belum ada penelitian, menurut Otamar, bayi yang dilahirkan dalm air lebih cerdas. “Bisa jadi itu karena resiko terjadinya cedera kepala pada bayi lebih kecil,” ujar Otamar.

  • Lebih Nyaman

Meski sudah keluar dari rahim ibunya, bayi tetap merasa nyaman, karena ia merasa seperti berada dalam rahim ibunya.
Itu karena ia berada dalam air yang suhunya seperti suhudalam rahim. Itu berarti stres yang mungkin dialami bayi juga bisa dikurangi.

  • Resiko Keracunan Ketuban Lebih Kecil

Resiko bayi keracunan dari ketuban lebih kecil, karena air ketuban yang keluar langsung bercampur dengan air kolam.

  • Lebih Suka Air

Karena dilahirkan dalam air, bayi lebih sensitif terhadap air. Sebab, dalam memorinya sudah tersimpan dalam air.

Apakah bayi tak Tersedak Air?

"APAKAH bayi yang dilahirkan dalam air tidak akan tersedak air karena rnenangis'? Begitu pasti pertanyaan yang ada dalam benak para ibu. Menanggapi pertanyaan seperti itu, dr Otamar Samsudin SpOG dengan tegas menjawab, ''Tidak!".

"Dari sepuluh pasien yang saya tangani, tak pernah ada kasus bayi tersedak karena minum air. Dan yang perlu dipahami, bayi tidak akan mengisap udara, kecuali tali pusarnya sudah dipotong. Selama bayi masih terhubung dengan tali pusar, bayi akan menerima pasokan oksigen dari ibunya melalui tali pusar,” jelas Otamar.

Ditambahkannya, pada dasarnya bayi yang baru dilahirkan akan Iangsung menangis bila:

  • Terjadi perubahan suasana.
  • Terjadi perubahan suhu air.
  • Ari-ari terlepas atau terputusnya hubungan antara bayi dan ibunya (tali pusar terputus).

Namun, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, kata Otamar, dokter spesialis anak juga harus siap sedia. Dengan begitu, "Ada tidaknya air yang masuk atau ada-tidaknya gangguan lainnya bisa langsung dideteksi dan segera diatasi dengan baik,” ujar Otamar.

PROSES

Seperti dikatakan Otamar, proses persalinan dalam air pada dasarnya seperti persalinan biasa. Karena itu, jangan membayangkan bahwa melahirkan dalam air itu rumit. Adapun tahapan proses persiapan hingga ibu melahirkan dalam air, menurut Otamar, adalah sebagai berikut:

  • Sterilisasi Kolam

Sebelum digunakan, kolam harus disterilisasi lebih dulu menggunakan desinfektan. Dengan begitu, kolam akan bebas kuman.

  • Pengisian Air

Setelah kolam dianggap bersih, baru diisi dengan air. Air tersebut haru sdisesuaikan dengan suhu tubuh ibu yang akan melahirkan. Itu penting untuk mencegah temperature shock saat bayi keluar dari rahim. Sterilitas air juga harus diperhatikan agar tidak menyebabkan infeksi pada ibu maupun bayi yang dilahirkannya.

  • Ibu Masuk Kolam

Ibu baru boleh masuk ke dalam kolam setelah jalan lahir membuka 5-6 sentimeter. “Itu untuk menghindari agar ibu tidak terlalu lama berada dalam air”, jelas Otamar. Jika ingin tenang menghadapi proses persalinan, sang suami bisa ikut mendampingi.

  • Bayi Lahir

Setelah kurang lebih 1-1,5 jam berendam dalam air, pembukaan biasanya sudah lengkap, sehingga bayi siap lahir. “Biasanya, dengan hanya sedikit tenaga untuk mengejan, bayi sudah keluar. Proses kelahiran bayi ini lebih mudah, karena air mempunyai sifat mendorong,” jelas Otamar. Setelah bayi lahir, ia tidak akan tenggelam, karena waktu dalam rahim pun bayi hidup dalam air ketuban selama sembilan bulan.

  • Bayi Diangkat
Setelah keluar, bayi diangkat dan langsung diberikan pada ibunya untuk mendapat pelukan hangat serta ciuman pertama dari ibunya. Setelah itu, baru pusarnya dipotong dan dibersihkan, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatannya.

Inseminasi intrauterin buatan suami (IBS)

Inseminasi intrauterin buatan suami adalah tindakan penaburan spermatozoa suami yang sudah terpilih dan tersaring melalui proses di laboratorium, ke dalam rongga rahim istri, di daerah dekat dengan mulut saluran telur.

Spermatozoa dimasukkan dengan bantuan alat khusus melalui vagina, kanal serviks dan menuju ke dalam rongga rahim. Spermatozoa tersebut diharapkan akan menerobos masuk ke dalam saluran telur, kemudian bertemu sel telur matang yang telah menunggu di bagian saluran telur yang melebar (ampula) atau cairan rongga perut (peritoneum). Pembuahan terjadi dalam saluran telur istri atau di dalam cairan peritoneal, kemudian setelah 5-7 hari hasil pembuahan (embrio) tersebut menuju ke rahim untuk menyusuk (implantasi) pada selaput lendir rahim (endometrium). Proses selanjutnya berjalan seperti kehamilan biasa.

Lama tindakan
Tindakan inseminasi membutuhkan waktu sekitar 5-10 menit jam, kemudian berbaring di tempat tidur selama + 1 jam. Tindakan ini tidak memerlukan rawat-inap.

Aturan persiapan untuk pasien:

  1. Untuk istri yang ovulasinya tidak teratur atau pada siklus normal yang waktu ovulasinya perlu diatur akan dilakukan pemicuan ovulasi dengan pemberian obat.
  2. Perkembangan kantong telur (folikel) akan dipantau dengan USG transvaginal, hingga mencapai ukuran sekurang-kurangnya 18 mm (hingga 26 mm).
  3. Bila telah ditemukan satu atau lebih folikel > 18 mm, istri diberi suntikan hCG-b untuk membantu pemecahan kantong telur dan terjadinya ovulasi.
  4. Sehari (antara 24-36 jam) setelah penyuntikan hCG-b, tindakan inseminasi akan dilakukan.
  5. Pada hari yang dijadwalkan, suami diminta untuk mengumpulkan bahan sperma, (dan apabila perlu istri akan diambil darahnya), kemudian bahan sperma akan diproses di Laboratorium Andrologi untuk meningkatkan mutu spermatozoa.
  6. Setelah Laboratorium Andrologi selesai menyiapkan spermatozoa suami, tindakan inseminasi dapat dilakukan.
  7. Setelah tindakan selesai, pasien tetap berbaring di tempat tidur dengan posisi bagian pantat lebih ditinggikan (selama + 1 jam), kemudian pasien boleh pulang.

4 Kunci Perkembangan Otak Anak

PERKEMBANGAN otak akan memengaruhi kecerdasan anak di kemudian hari. Hal yang memengaruhi perkembangan otak anak hingga usia 3 tahun antara lain faktor gen, asupan nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi.

Demikian dikatakan Dr Soedjatmiko dalam roadshow seminar "Memaksimalkan Kecerdasan Anak dengan Floor Time" di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (24/1).

Menurut Soedjatmiko, faktor gen dari orangtua memang sudah tak bisa diubah. "Ini sudah tak bisa diganggu gugat, misal orang tua cerdas, maka faktor gen akan menurun ke anak," jelasnya.

Adapun penambahan nutrisi terhadap bayi akan memberi efek positif bila diberikan sedini mungkin, yakni sekitar 6-12 bulan. "Perkembangan otak bayi setelah dilahirkan lebih penting dalam menentukan IQ anak di kemudian hari dibanding saat di dalam kandungan," tuturnya.

Nutrisi yang terbaik untuk bayi, dikatakan Soedjatmiko, air susu ibu (ASI) mengandung banyak zat yang diperlukan seperti protein dan asam amino, AA-DHA, Gangliosida (GA), kolin, dan zat gizi mikronutrien lainnya.

Di samping nutrisi, stimulasi juga memegang peranan penting dalam memaksimalkan kecerdasan anak. "Stimulasi diperlukan agar hubungan antarsel syaraf otak (sinaps) dapat berkembang karena bila tak distimulasi, sinaps yang jarang atau tak terpakai akan musnah," ucapnya.

Stimulasi ini dapat diterapkan sejak dini, yakni sejak janin masih dalam kandungan hingga umur 2-3 tahun yang dikenal dengan masa keemasan perkembangan otak anak (golden age).
Stimulasi, menurut Soedjatmiko, dapat dilakukan dengan bermain aktif dengan penuh kasih sayang, gembira, dan bebas.

"Faktor kasih sayang ini juga penting karena kedekatan emosional saat orangtua dan anak itu bermain dapat menstimulasi anak untuk berpikir kreatif," jelasnya.

Olahraga Saat Hamil? Kenapa Tidak!

Banyak perempuan yang takut untuk melakukan aktifitas terutama berolahraga, saat hamil dengan alasan menjaga kesehatan janinnya. Apalagi ketika usia kehamilan semakin bertambah, dan bobot tubuh yang semakin berat membuat perempuan menjadi malas bergerak.

Sebaiknya kini tinggalkan kebiasaan itu. Dr. James F. dari dari Universitas Kedokteran Cleveland, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa olahraga ternyata baik bagi kesehatan perempuan yang tengah hamil.

Sebuah penelitian dilakukan James terhadap 39 perempuan hamil. Perempuan-perempuan itu biasa berolahraga ketika mereka belum hamil. Sebanyak 20 orang dari mereka tetap menjalankan kebiasaan olahraganya saat hamil. Sedangkan 19 sisanya menghentikan kebiasaan olahraganya saat hamil.

Perempuan yang tetap menjalankan olahraga memiliki tingkat kesehatan 82 persen saat hamil. Sebaliknya perempuan yang tidak berolahraga tingkat kesehatannya hanya 52 persen.

Dikutip detikhot dari Reuters Health, Selasa (18/11/2008), perempuan yang masih aktif berolahraga saat hamil juga bisa menurunkan berat badannya lebih cepat. Tak hanya itu, detak jantung dan tekanan darah para perempuan tersebut juga menjadi lebih baik.

Tapi yang perlu diingat, kegiatan berolahraga harus dikurangi ketika usia kehamilan mencapai 12 minggu. Olahraga bisa kembali dilakukan secara normal setelah 6 bulan melahirkan.

Cemburuan Berimbas Pada Anak

BANYAK pasangan suami-istri lupa, sifat cemburu, apalagi yang obsesif, bisa berdampak buruk bagi anak-anak. Salah satu yang sering terjadi, anak akan menjadi sasaran pelampiasan kekesalan.

"Akibatnya, anak merasa tak aman. Padahal, itu sesuatu yang sangat fundamental bagi anak," ujar Jacinta F Rini, Msi dari e-psikologi.com.

Anak merasa tak punya basic trust di rumah. "Papa enggak percaya sama Mama. Jangan-jangan, mereka tak percaya juga sama saya." Dalam jangka panjang, anak yang melihat orang tuanya selalu penuh kecurigaan, akan meniru perilaku yang sama. Atau malah sebaliknya, acuh pada perasaan itu.

"Ini juga enggak sehat. Anak akan tumbuh dan belajar, 'Kalau saya mau sukses, saya harus seperti ayah.' Ia akan serap pola ayahnya untuk berelasi dengan orang lain. Terutama pada istri atau pacarnya, karena ia melihat, dengan cara itu, everything is oke." Celaka, kan?

Hamil Kurang Makan Bikin Bayi Obesitas

SEBUAH penelitian mengindikasikan, asupan kalori ibu sepanjang masa kehamilan ternyata berperan penting dalam mempengaruhi kecenderungan sel-sel lemak bayi yang tengah dikandungnya.

Riset terbaru Dr Helen Budge, dari Universitas Nottingham menyimpulkan kurangnya asupan kalori semasa hamil ternyata dapat mengubah perilaku sel-sel lemak bayi setelah dilahirkan.

Dengan menggunakan domba sebagai model penelitian, Budge menemukan sel-sel lemak janin domba yang mendapat asupan kalori terlalu sedikit mengalami peradangan yang cukup parah. Peradangan ini diyakini mampu merusak kemampuan tubuh memetabolisme makanan sehingga menempatkan bayi dalam kelompok risiko tinggi mengalami kegemukan atau obesitas.

Dalam risetnya, Budge juga menemukan buruknya kualitas nutrisi selama kehamilan memicu kerusakan sejenis gen lemak disebut FTO, yang dikaitkan dengan 30 persen peningkatan risiko obesitas.

"Sel-sel lemak awalnya dipekirakan sebagai jaringan yang tidak berdaya, tetapi kami sekarang menemukan bahwa mereka melepaskan hormon-hormon penting dalam metabolisme makanan. Jika kadar dari hormon ini terganggu atau jaringan lemak dirusak oleh peradangan, maka terjadilah peningkatan risiko obesitas," ungkap Dr Budge, saat berbicara di hadapan British Association for the Advancement for Science.

Dr Budge dan timnya memakai domba dalam risetnya karena hewan ini adalah model terbaik bagi obesitas pada manusia. Dengan cara merekayasa asupan kalori dan diet para domba semasa kehamilan, para peneliti dapat memantau perubahan yang terjadi dalam bayi domba setelah lahir.

Dr Budge kini tengah berupaya merintis penelitian guna mengurai secara detil jenis makanan apa yang terbaik bagi wanita hamil sekaligus memberikan modal terbaik bagi bayi di kehidupan awal mereka.

"Apa yang dimakan seorang ibu selama hamil dapat memberi dampak besar bagi kesehatan bayi di kemudian hari. Yang menarik adalah kami tak hanya membicarakan bayi yang kekurangan nutrisi semasa kandungan, tetapi juga mereka yang lahir dengan berat rata-rata normal," ujarnya.

Kendati riset Budge lebih menekankan pada sedikitnya jumlah kalori daat kandungan, banyak riset lainnya menunjukkan bahwa terlalu banyak makan selama hamil juga dapat merugikan bayi dan ibu.

"Nasehat terbaik yang dapat kami tawarkan saat ini bagi para ibu hamil adalah makanlah dengan diet yang sehat dan seimbang," ujarnya.

Berpikir Positif Cegah Kanker Payudara

MERASA bahagia dan selalu berpikir positif adalah salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan. Dengan perasaan optimistis dan bahagia, risiko terserang berbagai penyakit pun dapat ditekan seminimal mungkin.

Pentingnya perasaan positif dan bahagia tercermin dari sebuah riset belum lama ini yang dimuat BioMed Central journal BMC Cancer. Hasil riset mengindikasikan wanita yang bahagia dan berpikir positif cenderung berisiko lebih rendah mengidap penyakit kanker payudara.

Dr Ronit Peled dari Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, Israel, dalam hasil risetnya menyatakan bahwa kebahagiaan dan optimisme mampu menekan risiko kanker payudara pada wanita hingga 25 persen. Sedangkan pengalaman atau kejadian traumatis seperti perceraian atau kehilangan seseorang yang dicintai dapat memburuk risiko.

“Kami secara hati-hati dapat menyatakan bahwa mengalami satu atau lebih kejadian menyedihkan adalah sebuah faktor risiko kanker payudara pada wanita muda. Di lain pihak, perasaan akan bahagia dan optimisme dapat memberikan perlindungan. Wanita muda yang mengalami sejumlah pengalaman buruk dalam hidupnya dipertimbangkan sebagai kelompok yang berisiko kanker payudara dan oleh sebab itu harus ditangani,'' ungkap Ronit Peled.

Tetapi Peled menekankan bahwa hasil risetnya jangan diartikan bahwa rasa bahagia dan optimisme menjadi gerbang utama untuk terhindar dari penyakit kanker payudara. "Konsumsi makan yang baik dan aktif secara fisik merupakan faktor yang harus diperhitungkan," tambahnya.

Dr Peled dan timnya meneliti sejumlah faktor yang berkaitan dengan stres psikologis seperti kehilangan orangtua sebelum berusia 20 tahun dan kaitannya dengan risiko kanker.Peled melakukan penelitian ini dilatarbelakangi tingginya faktor risiko kanker payudara yang dialami wanita Israel. Lebih-lebih wanita Israel kerap kerap disebut kelompok dengan risiko tertinggi di dunia dalam hal kanker payudara.

Sebanyak 255 wanita usia 25 - 45 tahun yang terindikasi kanker paru dilibatkan bersama 367 wanita usia sama yang tidak mengalami kanker. Peled dan timnya menanyakan sejumlah hal kepada para wanita seperti pandangan akan masa depan dan pengalaman traumatis akibat penyakit, kehilangan pekerjaan, perceraian hingga kematian.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara cara berpikir wanita dengan risiko mengidap kanker payudara. Mereka yang berpikir optimistis mencatat risiko 25 persen lebih rendah mengidap kanker. Sementra wanita yang mengalami dua atau tiga kejadian atau pengalaman traumatis mengalami peningkatan risiko sebesar 62 persen.

"Ditemukan bahwa perasaaan bahagia dan optimisme memberikan dampak protektif ," ujar peneliti .