Kebiasaan minum biasanya dikaitkan dengan aturan minimal delapan
gelas sehari. Ada yang beranggapan, minum tak selalu berupa air mineral
atau air putih, melainkan bisa teh, kopi, jus, dan jenis cairan lainnya.
Padahal yang dimaksud minum air adalah air putih atau air mineral,
bukan minum cairan seperti teh. Minum air juga tak ada batasan, semakin
sering justru membuat tubuh lebih fit dan terhindar dari berbagai
gangguan kesehatan. Kebiasaan minum yang salah kaprah inilah yang
kemudian menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi tanpa disadari,
kemudian memicu berbagai penyakit.
"Kebanyakan orang acuh. Ada
sakit di dalam tubuh, seperti sakit kepala, lambung, bukannya mengenali
mengapa sakit, tapi lebih mencari obat antisakit. Padahal semua rasa
sakit itu, termasuk otot kram, pegal, itu karena tubuh kekurangan air.
Mineral dalam air men-
charger tubuh. Tubuh memberikan sinyal
ada masalah lewat penyakit, kita harus lebih peka mengenalinya. Namun
kebanyakan orang tidak mau berkomunikasi dengan dirinya, tapi lebih
mencari pengobatan saat sudah sakit," ungkap Dokter spesialis
detoksifikasi, Riani Susanto, ND (Naturophatic Doctor), di sela temu
media produk minuman air dalam kemasan di Kemang, Jakarta, Jumat
(4/10/2013).
Mitos yang salah tentang air juga membuat banyak
orang memiliki kondisi tubuh yang defisit air. Misalnya, banyak minum
bikin gemuk atau kebanyakan minum bisa kembung. Riani mengatakan air
dalam tubuh selalu defisit. Jadi tidak ada istilah kebanyakan air, atau
kebanyakan minum air apalagi anggapan yang menyatakan khawatir kembung
kalau kebanyakan minum air.
"Minum air kapan saja, lebih sering lebih baik. Apalagi dalam kondisi ruangan ber-AC, setelah makan makanan asin,
junk food.
Kalau merasa kembung, artinya tubuh dehidrasi, defisit air. Tubuh
bermasalah jika air tidak terserap dengan baik, termasuk jika merasa
kembung," sarannya.
Yang juga perlu dipahami adalah, organ tubuh
tidak selalu bisa menyerap cairan dengan baik, jadi cairan harus
"ditabung" di dalam tubuh, termasuk di dalamnya asupan air.
Cara
paling sederhana mengukur dehidrasi adalah dengan minum sekitar 1.200 ml
air dalam waktu 5-10 menit, tanpa bersendawa, dan ada jeda namun hanya
hitungan detik untuk mengambil napas. Jika Anda tidak bisa melakukan
cara ini, artinya tubuh punya masalah karena tidak memiliki kemampuan
menyerap air. Ini petanda Anda mengalami dehidrasi, atau tubuh
mengalami defisit air. Sementara jika Anda bisa melakukan cara ini dan
menjadi kebiasaan harian, bukan hanya bebas dehidrasi, tubuh juga
memiliki cadangan air yang cukup untuk mencegah terjadinya defisit air.
Tanda
lain dari kondisi dehidrasi di antaranya Anda kerap menderita sakit
kepala juga migrain. Orang yang kesulitan menurunkan berat badan juga
tanda kurang minum air. Karena menurut Ariani, dengan minum air secara
tepat, orang justru bisa mengatasi masalah berat badannya atau bisa
kurus. Kurang konsentrasi juga bisa menjadi akibat lain kurang minum
air. Kondisi kulit yang tampak kusam, bermasalah seperti jerawat, juga
menandakan dehidrasi. Sementara, langkah paling umum untuk mengenali
dehidrasi adalah dengan memperhatikan warna urin. Warna urin harus
jernih bukan pekat, ini yang menunjukkan apakah tubuh mengalami
dehidrasi atau tidak.
Akibat dehidrasiAir
merupakan antioksidan untuk menjaga daya tahan tubuh. Air membuat tubuh
lebih berenergi, waspada, bahkan awet muda. Air memberikan kontribusi
besar terhadap kesehatan tubuh, angkanya 60-70 persen, menurut Riani.
Karenanya, Riani mengatakan, tetap terhidrasi merupakan kondisi darurat
yang perlu diperhatikan setiap orang. Oleh sebab itu, air mineral
dibutuhkan sejak anak masih dalam kandungan, melalui asupan air ibu
hamil, hingga anak dilahirkan atau dengan kata lain bayi pun boleh minum
air mineral, hingga anak tumbuh besar hingga mencapai usia tua. Justru,
katanya, para orang tua membutuhkan lebih banyak air dibandingkan orang
muda.
Mengapa darurat? Karena dehidrasi juga over dehidrasi
menimbulkan berbagai gangguan fisik ringan hingga penyakit serius,
bahkan kesehatan mental.
Riani menyebutkan, dehidrasi memicu
terjadinya infeksi saluran kencing, penuaan dini, obesitas, kolesterol,
maag, gangguan pernapasan, gangguan pencernaan, capek tanpa sebab,
tekanan darah tinggi dan rendah. Dehidrasi juga menimbulkan perasaan
perseptif di antaranya mudah marah, depresi, cemas, gangguan tidur,
kecanduan soda, alkohol, obat-obatan.
"Sakit kepala dan maag, paling banyak terjadi karena dehidrasi," ungkapnya.
Berbagai
penyakit yang muncul akibat pola makan tidak sehat juga menjadi akibat
lain dehidrasi. Jika tubuh terhidrasi dengan baik, cadangan air di dalam
tubuh setidaknya bisa menyeimbangkan makanan atau minuman tak sehat
yang masuk ke dalam tubuh.
"Minum kopi membuang air di dalam
tubuh, bisa bikin dehidrasi. Makan gorengan atau makanan tidak sehat
lainnya juga bisa menimbulkan penyakit. Namun semua masalah ini bisa
diseimbangkan dengan air, sehingga penyakit bisa diminimalisasi. Air
sebagai detoks," terangnya.
Penulis : Wardah Fazriyati